Tubuh Tetap Fit Saat Erupsi: 10 Tips Nutrisi Menghadapi Dampak Abu Vulkanik

Erupsi gunung berapi dapat mengubah rutinitas masyarakat dalam waktu singkat. Ketika abu vulkanik mulai menyebar, aktivitas di luar rumah mungkin harus dibatasi, akses menuju pasar dapat terganggu, kegiatan memasak menjadi lebih sulit, sementara kebutuhan tubuh terhadap makanan dan cairan tetap berjalan seperti biasa.

Dalam situasi seperti ini, menjaga nutrisi bukan berarti mencari makanan tertentu yang dianggap mampu menangkal dampak abu vulkanik. Tidak ada makanan ajaib yang dapat membuat tubuh kebal terhadap paparan abu. Perlindungan utama tetap dengan mengurangi paparan, mengikuti arahan petugas, menggunakan perlindungan yang sesuai, dan melakukan evakuasi jika diperintahkan.

Namun, pola makan yang baik tetap memiliki peran penting. Tubuh membutuhkan energi, protein, vitamin, mineral, dan cairan untuk menjalankan fungsi normal, terutama ketika seseorang menghadapi kondisi lingkungan yang penuh tekanan.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa erupsi vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit, serta menimbulkan risiko kontaminasi pada makanan dan air. Karena itu, aspek nutrisi selama erupsi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimakan, tetapi juga seberapa aman makanan dan minuman tersebut dikonsumsi.

Berikut sejumlah tips yang dapat diterapkan untuk membantu menjaga kondisi tubuh ketika masyarakat menghadapi imbas erupsi vulkanik.

1. Jadikan Air Minum sebagai Prioritas Utama

Dalam situasi bencana, makanan sering menjadi perhatian utama. Padahal, kecukupan cairan juga sangat penting.

Tubuh membutuhkan air untuk berbagai fungsi, termasuk membantu mengatur suhu tubuh, mendukung metabolisme, menjaga fungsi organ, dan mempertahankan keseimbangan cairan.

Ketika terjadi erupsi, sumber air terbuka berpotensi terkena abu atau material lain. WHO menyebut abu dan bahan kimia akibat erupsi dapat meningkatkan risiko kontaminasi air dan makanan.

Karena itu, simpan persediaan air minum dalam wadah tertutup dan gunakan sumber air yang dinyatakan aman.

Jangan menganggap air yang terlihat jernih otomatis aman diminum. Jika sumber air terkena abu atau terdapat perubahan warna, bau, atau rasa, sebaiknya jangan digunakan untuk konsumsi sebelum ada kepastian mengenai keamanannya.

2. Pilih Makanan yang Bergizi Sekaligus Aman

Saat kondisi darurat, masyarakat mungkin harus mengandalkan makanan yang mudah disimpan. Hal tersebut tidak selalu menjadi masalah selama pilihan makanan tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan keamanan pangan.

Jika tersedia, usahakan makanan sehari-hari tetap terdiri dari beberapa kelompok bahan pangan.

Karbohidrat dapat diperoleh dari nasi, kentang, roti, jagung, atau sumber lainnya. Protein dapat berasal dari telur, ikan, ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, atau makanan lain yang tersedia dan aman.

Tambahkan sayuran serta buah ketika kondisi memungkinkan.

Prinsipnya bukan membuat menu sempurna seperti pada kondisi normal, tetapi menjaga agar tubuh tetap mendapatkan variasi zat gizi sebanyak mungkin.

WHO menegaskan bahwa akses terhadap makanan yang cukup, aman, dan bergizi merupakan bagian penting dalam mempertahankan kehidupan dan kesehatan.

3. Jangan Konsumsi Makanan yang Terpapar Abu Secara Langsung

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menganggap abu vulkanik hanya sebagai debu biasa.

Abu dapat menempel pada makanan yang dibiarkan terbuka. Material vulkanik juga dapat berdampak terhadap keamanan air dan rantai pangan di wilayah terdampak.

Karena itu, makanan sebaiknya selalu disimpan dalam wadah tertutup ketika terjadi hujan abu.

Makanan siap santap yang berada di luar ruangan dan terkena abu secara langsung perlu dipertimbangkan kembali keamanannya. Jangan mengambil risiko hanya karena makanan tersebut terlihat masih baik.

Prinsip keamanan pangan sederhana dapat diterapkan: jika kebersihan dan keamanan makanan diragukan, lebih baik tidak dikonsumsi.

4. Siapkan Cadangan Makanan untuk Kondisi Darurat

Kondisi pascaerupsi mungkin membuat masyarakat sulit berbelanja seperti biasa. Jalan dapat terganggu, transportasi terbatas, toko tidak semuanya buka, dan aktivitas di luar rumah mungkin dibatasi.

Karena itu, memiliki persediaan makanan menjadi bagian dari kesiapsiagaan keluarga.

Pilih makanan yang relatif tahan lama, mudah disimpan, dan dapat dikonsumsi atau diolah dengan praktis.

Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Beras atau sumber karbohidrat lain.
  • Oat atau sereal.
  • Kacang-kacangan.
  • Biskuit dengan kandungan gizi yang sesuai.
  • Susu UHT.
  • Makanan kaleng yang masih dalam kondisi baik.
  • Telur jika penyimpanannya memungkinkan.
  • Buah yang tidak cepat rusak.
  • Air minum dalam kemasan.
  • Makanan siap santap yang memiliki masa simpan panjang.

Persediaan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan kebutuhan masing-masing.

Untuk keluarga dengan anak kecil, lansia, atau anggota keluarga yang memiliki kebutuhan makanan khusus, persediaan juga perlu disesuaikan.

5. Jangan Mengandalkan Suplemen sebagai Pengganti Makanan

Dalam situasi bencana, mungkin muncul berbagai informasi mengenai vitamin, suplemen, atau minuman tertentu yang diklaim dapat meningkatkan daya tahan tubuh secara instan.

Masyarakat perlu bersikap kritis terhadap klaim semacam itu.

Suplemen tidak dapat menggantikan pola makan yang beragam. Tubuh memperoleh berbagai zat gizi dari kombinasi makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, serat, dan cairan memiliki fungsi yang berbeda.

Tidak ada satu jenis makanan atau suplemen yang dapat menggantikan keseluruhan kebutuhan tersebut.

Terlebih lagi, mengonsumsi suplemen secara berlebihan bukan berarti tubuh menjadi lebih kuat menghadapi abu vulkanik.

Fokus utama tetap pada perlindungan dari paparan, makanan yang aman, hidrasi, dan pola makan seimbang.

6. Tetap Penuhi Kebutuhan Protein

Protein sering kali terlupakan ketika orang memilih makanan darurat.

Padahal, protein merupakan salah satu zat gizi penting dalam pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh.

Dalam kondisi akses makanan terbatas, pilih sumber protein yang mudah diperoleh dan aman disimpan.

Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, susu, atau produk pangan lainnya dapat menjadi pilihan sesuai ketersediaan.

Tidak perlu memaksakan satu jenis makanan tertentu. Variasi justru lebih baik agar kebutuhan zat gizi tidak hanya bergantung pada satu sumber.

Jika kondisi pengungsian atau keterbatasan logistik membuat pilihan makanan sangat terbatas, prioritaskan makanan yang tersedia, aman, dan memenuhi kebutuhan energi serta protein.

7. Tetap Konsumsi Buah dan Sayuran jika Aman

Buah dan sayuran merupakan bagian penting dari pola makan seimbang karena menyediakan berbagai vitamin, mineral, serat, dan senyawa bioaktif.

Namun, ketika terjadi hujan abu, kebersihan bahan pangan harus menjadi perhatian utama.

Buah dan sayuran yang berada di tempat terbuka dapat terkena abu. Jangan langsung mengonsumsinya tanpa memastikan proses pembersihan dan keamanan sesuai kondisi setempat.

Jika bahan pangan sudah terpapar kontaminasi dan tidak dapat dibersihkan dengan aman, sebaiknya tidak dikonsumsi.

Artinya, prinsip “banyak makan sayur dan buah” tetap penting, tetapi keamanan pangan harus didahulukan.

8. Jangan Abaikan Kebutuhan Energi

Bencana dapat membuat seseorang lebih banyak bergerak, terutama ketika harus mengungsi, membersihkan lingkungan, membantu keluarga, atau melakukan berbagai aktivitas darurat.

Pada saat yang sama, stres juga dapat membuat pola makan berubah. Ada orang yang kehilangan nafsu makan, sementara sebagian lainnya justru makan secara tidak teratur.

Tubuh tetap membutuhkan energi.

Usahakan jadwal makan tidak terlalu berantakan. Jika sulit mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, makanlah dalam porsi yang lebih kecil tetapi tetap teratur, selama kondisi memungkinkan.

Prioritaskan makanan yang memberikan energi dan zat gizi, bukan hanya makanan yang mengenyangkan.

9. Lindungi Makanan Selama Proses Penyimpanan

Keamanan makanan tidak berhenti setelah bahan pangan dibeli.

Cara penyimpanan juga penting.

Gunakan wadah yang dapat ditutup rapat. Pisahkan makanan matang dan bahan mentah. Hindari meletakkan makanan langsung di lantai atau tempat yang mudah terkena abu.

Periksa pula kondisi kemasan makanan sebelum dikonsumsi.

Jangan mengonsumsi produk dengan kemasan rusak parah, bocor, menggembung, atau menunjukkan tanda kerusakan lain.

WHO menjelaskan bahwa keamanan pangan dan nutrisi memiliki hubungan erat. Makanan yang tidak aman dapat menyebabkan penyakit dan pada akhirnya justru memperburuk masalah gizi, terutama pada kelompok rentan.

10. Perhatikan Kelompok yang Membutuhkan Nutrisi Lebih Terencana

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dapat membutuhkan perhatian lebih dalam situasi darurat.

Perubahan pola makan secara drastis dapat menjadi tantangan bagi kelompok tersebut.

Jika memiliki bayi atau anak kecil, siapkan kebutuhan makanan yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka.

Untuk lansia, pastikan makanan memiliki tekstur yang sesuai apabila terdapat kesulitan mengunyah atau menelan.

Bagi anggota keluarga yang memiliki kebutuhan diet tertentu berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi, usahakan kebutuhan tersebut tetap diperhatikan selama masa pengungsian.

Jangan ragu meminta bantuan petugas kesehatan jika mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makanan.

Nutrisi Bukan Penangkal Abu Vulkanik

Satu hal yang sangat penting untuk diluruskan adalah anggapan bahwa makanan tertentu dapat “membersihkan paru-paru” dari abu vulkanik.

Tidak ada dasar untuk menjadikan makanan tertentu sebagai penangkal langsung paparan abu.

WHO menyebut dampak kesehatan erupsi dapat mencakup gangguan pernapasan akibat abu dan gas, iritasi mata serta kulit, hingga risiko kontaminasi makanan dan air.

Artinya, pendekatan yang tepat harus dilakukan dari beberapa sisi.

Pertama, kurangi paparan terhadap abu. Kedua, lindungi saluran pernapasan dan mata sesuai kondisi. Ketiga, jaga kebersihan. Keempat, pastikan makanan dan air aman. Kelima, pertahankan asupan nutrisi.

Jangan mengganti perlindungan fisik dengan konsumsi suplemen atau makanan tertentu.

Apa yang Sebaiknya Ada dalam Paket Makanan Darurat?

Keluarga dapat membuat paket makanan darurat sederhana yang disesuaikan dengan kondisi rumah.

Prioritaskan beberapa kelompok berikut:

Sumber energi: beras, roti, oat, sereal, kentang, atau makanan pokok lain.

Sumber protein: kacang-kacangan, susu, telur, ikan kaleng, atau produk protein lain yang mudah disimpan.

Sumber vitamin dan mineral: buah atau sayuran yang aman dan sesuai kondisi penyimpanan.

Cairan: air minum yang aman dalam jumlah memadai.

Makanan praktis: makanan siap santap atau produk dengan masa simpan cukup panjang.

Periksa tanggal kedaluwarsa secara berkala. Jangan menunggu bencana terjadi untuk mengetahui bahwa sebagian persediaan sudah tidak layak dikonsumsi.

Tetap Tenang dan Ikuti Informasi Resmi

Selain persoalan makanan, kondisi bencana dapat menimbulkan stres. Kepanikan sering membuat seseorang mengambil keputusan terburu-buru, termasuk dalam memilih makanan atau sumber air.

Karena itu, informasi resmi harus menjadi rujukan utama.

Jika petugas meminta masyarakat mengungsi, lakukan evakuasi sesuai instruksi. Jika sumber air dinyatakan tidak aman, jangan menggunakannya untuk konsumsi hanya karena terlihat bersih.

PAHO/WHO juga menekankan pentingnya mengikuti arahan otoritas darurat dan mengurangi paparan abu dengan tetap berada di dalam ruangan sebanyak mungkin ketika kondisi mengharuskannya.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Nutrisi penting, tetapi jangan menjadikan pola makan sebagai alasan untuk menunda pemeriksaan.

Jika setelah terpapar abu seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kesulitan bernapas, gangguan penglihatan, muntah atau diare berat, penurunan kesadaran, atau keluhan lain yang memburuk, segera cari bantuan medis.

Orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan juga perlu lebih waspada karena paparan abu dapat memperburuk gejala.

PAHO/WHO mencatat bahwa paparan abu dapat menyebabkan iritasi tenggorokan dan mata serta memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada, terutama pada kelompok rentan.

Penutup

Menghadapi erupsi vulkanik membutuhkan kesiapan yang lebih luas daripada sekadar menggunakan masker. Tubuh tetap membutuhkan makanan, air, energi, protein, vitamin, dan mineral selama masa darurat.

Karena itu, tips nutrisi menghadapi erupsi vulkanik sebaiknya dimulai dari hal yang paling mendasar: memastikan air minum aman, melindungi makanan dari abu, memilih bahan pangan yang bergizi, menyiapkan cadangan makanan, serta menjaga pola makan tetap beragam sesuai kondisi.

Namun, nutrisi bukanlah pengganti perlindungan dari abu vulkanik. Tidak ada makanan atau suplemen yang dapat membuat tubuh kebal terhadap paparan abu. Upaya paling penting tetap mengurangi paparan, mengikuti informasi resmi, menggunakan perlindungan yang tepat, dan segera mendapatkan pertolongan jika muncul gejala yang mengkhawatirkan.

Ketika masyarakat mampu menggabungkan kesiapsiagaan bencana, keamanan pangan, hidrasi, dan gizi seimbang, tubuh akan memiliki dukungan yang lebih baik untuk melewati masa sulit tersebut.

Bencana memang tidak selalu dapat diprediksi secara pasti, tetapi kesiapan dapat dibangun sejak sekarang. Menyediakan air bersih, makanan bergizi yang tahan lama, perlengkapan kesehatan, serta mengetahui langkah perlindungan terhadap abu merupakan investasi sederhana untuk menjaga kesehatan keluarga ketika keadaan darurat datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *