Saat Mood Berubah, Tubuh Bisa Ikut Bereaksi: Memahami Pengaruh Mood terhadap Kesehatan

Mood atau suasana hati sering dianggap sebagai sesuatu yang hanya berhubungan dengan perasaan. Ketika sedang bahagia, seseorang biasanya lebih bersemangat menjalani aktivitas. Sebaliknya, saat kecewa, cemas, marah, atau sedih, pekerjaan sederhana sekalipun bisa terasa lebih berat.

Namun, perubahan mood ternyata tidak hanya berada di dalam pikiran. Kondisi emosional dapat berkaitan dengan berbagai kebiasaan yang berpengaruh terhadap kesehatan, mulai dari pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik hingga cara tubuh menghadapi stres.

Hubungan antara mood dan nutrisi juga menarik untuk diperhatikan. Apa yang dikonsumsi setiap hari berperan penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. WHO menegaskan bahwa pola makan sehat merupakan fondasi kesehatan dan kesejahteraan, dengan prinsip utama berupa kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman makanan.

Karena itu, menjaga mood sebaiknya tidak hanya dilakukan dengan mencari hiburan ketika sedang merasa buruk. Pola hidup secara keseluruhan, termasuk makanan bergizi, tidur cukup dan aktivitas fisik, juga perlu mendapat perhatian.

Apa Hubungan Mood dengan Kesehatan?

Mood menggambarkan kondisi emosional seseorang pada waktu tertentu. Mood bisa berubah karena berbagai hal, seperti pekerjaan, hubungan sosial, tekanan hidup, kurang tidur, kondisi lingkungan maupun perubahan rutinitas.

Ketika seseorang menghadapi situasi yang membuat tertekan, tubuh dapat memberikan respons terhadap stres. Menurut WHO, stres memengaruhi pikiran sekaligus tubuh dan dapat disertai berbagai kondisi seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan perut, perubahan nafsu makan dan masalah tidur.

Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak berjalan secara terpisah. Kondisi emosional dapat memengaruhi perilaku sehari-hari, sementara kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasa secara emosional.

Inilah alasan pengaruh mood terhadap kesehatan perlu dipahami secara menyeluruh.

1. Mood Dapat Mengubah Pola Makan

Salah satu perubahan yang paling mudah diamati ketika mood terganggu adalah pola makan.

Ada orang yang ketika stres justru tidak berselera makan. Ada pula yang mencari makanan tertentu sebagai bentuk kenyamanan. Makanan manis, makanan cepat saji, camilan atau minuman tertentu terkadang menjadi pilihan ketika seseorang sedang bosan atau mengalami tekanan.

Jika hanya terjadi sesekali, perubahan tersebut belum tentu menjadi masalah. Namun, ketika makan karena emosi menjadi kebiasaan, pola tersebut dapat membuat kualitas diet semakin tidak seimbang.

Sebaliknya, orang yang sedang merasa sangat tertekan juga bisa melewatkan waktu makan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan asupan energi dan nutrisi yang dibutuhkan secara optimal.

Menjaga jadwal makan tetap teratur menjadi langkah sederhana yang penting. WHO juga menyarankan pola makan beragam yang mencakup buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh dan sumber protein, sekaligus membatasi konsumsi berlebihan gula bebas, garam, serta lemak tidak sehat.

2. Nutrisi dan Mood Saling Berhubungan

Makanan tidak hanya digunakan tubuh sebagai sumber energi. Berbagai zat gizi diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh, termasuk fungsi otak.

Hubungan antara makanan dan kesehatan mental juga menjadi perhatian dalam penelitian. Sebuah tinjauan yang diterbitkan di BMJ menyebutkan bahwa pola makan sehat, termasuk pola makan seperti diet Mediterania, berhubungan dengan kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan pola makan yang kurang sehat. Peneliti juga membahas kemungkinan peran kadar gula darah, sistem imun dan mikrobioma usus dalam hubungan antara makanan dan mood.

Artinya, bukan berarti satu jenis makanan tertentu dapat secara instan membuat seseorang bahagia. Hubungannya jauh lebih kompleks.

Yang lebih penting adalah kualitas pola makan secara keseluruhan.

Mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi setiap hari jauh lebih masuk akal daripada mencari satu makanan yang dianggap sebagai “obat mood”.

3. Mood Buruk Bisa Memengaruhi Kualitas Tidur

Mood dan tidur memiliki hubungan yang erat.

Ketika pikiran sedang dipenuhi masalah, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk beristirahat. Pikiran terus bekerja ketika tubuh seharusnya mulai rileks. Akibatnya, waktu tidur menjadi lebih pendek atau kualitas tidur menurun.

Masalahnya tidak berhenti sampai di sana. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi dan lebih mudah mengalami perubahan emosi pada hari berikutnya.

WHO menyebutkan bahwa tidur yang cukup penting bagi tubuh dan pikiran serta dapat membantu tubuh menghadapi dampak stres.

Karena itu, menjaga mood juga berarti menjaga rutinitas tidur. Cobalah tidur dan bangun pada waktu yang relatif konsisten, mengurangi penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur, serta menciptakan lingkungan kamar yang nyaman.

4. Stres Dapat Mengganggu Nafsu Makan

Tidak semua orang menghadapi stres dengan cara yang sama.

Sebagian orang kehilangan selera makan. Sebagian lainnya justru makan lebih banyak dari biasanya. WHO mencatat bahwa stres dapat membuat seseorang kehilangan nafsu makan ataupun makan lebih banyak.

Perubahan tersebut penting diperhatikan karena nafsu makan yang tidak teratur dapat memengaruhi kualitas asupan nutrisi.

Ketika seseorang sering melewatkan makan, tubuh bisa kekurangan asupan energi dan zat gizi. Sementara itu, kebiasaan makan berlebihan, khususnya jika didominasi makanan tinggi gula, garam dan lemak tidak sehat, dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.

Solusinya bukan melarang diri menikmati makanan tertentu, melainkan membangun kebiasaan makan yang lebih teratur dan beragam.

5. Mood Memengaruhi Keinginan untuk Bergerak

Ketika mood sedang baik, seseorang biasanya lebih mudah termotivasi untuk melakukan berbagai aktivitas.

Sebaliknya, ketika sedang mengalami tekanan atau merasa sedih, keinginan untuk bergerak bisa menurun. Duduk terlalu lama, rebahan sepanjang hari dan mengurangi aktivitas fisik dapat menjadi kebiasaan.

Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat.

Olahraga juga tidak harus selalu identik dengan latihan berat. Jalan kaki, bersepeda, melakukan pekerjaan rumah, peregangan, menari atau aktivitas fisik ringan lainnya dapat menjadi pilihan.

WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara teratur sebagai salah satu cara membantu mengurangi stres.

Dengan demikian, ketika mood sedang turun, tidak ada salahnya memulai dari aktivitas kecil. Berjalan kaki selama beberapa menit bisa menjadi awal sebelum kembali menjalani rutinitas yang lebih aktif.

6. Kesehatan Pencernaan Juga Bisa Ikut Terpengaruh

Pernah merasakan perut tidak nyaman ketika sedang gugup? Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi emosional dan sistem pencernaan dapat saling berkaitan.

Stres dapat disertai keluhan pada sistem pencernaan. WHO memasukkan gangguan perut sebagai salah satu gejala fisik yang dapat muncul ketika seseorang mengalami stres.

Karena itu, menjaga kesehatan pencernaan tidak cukup hanya dengan memperhatikan jenis makanan. Kondisi psikologis, pola tidur, aktivitas fisik dan kebiasaan makan juga perlu diperhatikan.

Asupan serat dari buah, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. WHO juga menempatkan buah, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian sebagai bagian penting dari pola makan sehat.

7. Mood Buruk Bisa Membentuk Kebiasaan Kurang Sehat

Pengaruh mood terhadap kesehatan terkadang tidak terjadi secara langsung.

Misalnya, seseorang sedang stres karena pekerjaan. Karena merasa lelah secara emosional, ia mulai tidur larut malam. Keesokan harinya tubuh terasa lemas sehingga malas bergerak. Karena tidak sempat menyiapkan makanan, ia memilih makanan praktis. Setelah itu, rutinitas tersebut berulang.

Dalam kondisi seperti ini, masalah kesehatan bukan hanya berasal dari mood, tetapi juga dari kebiasaan yang muncul sebagai respons terhadap mood tersebut.

WHO menyebutkan bahwa stres kronis dapat memperburuk masalah kesehatan yang sudah ada dan dapat meningkatkan penggunaan alkohol, tembakau maupun zat lainnya pada sebagian orang.

Karena itu, ketika sedang mengalami tekanan, penting untuk mengenali kebiasaan apa yang mulai berubah.

8. Jangan Mengandalkan Makanan sebagai Satu-satunya Cara Memperbaiki Mood

Makanan memang dapat memberikan rasa nyaman. Namun, menjadikan makanan sebagai satu-satunya cara menghadapi emosi bukan kebiasaan yang ideal.

Jika sedang sedih, seseorang mungkin merasa lebih baik setelah menikmati makanan favorit. Hal tersebut wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika setiap emosi negatif selalu direspons dengan makan berlebihan.

Cara menjaga mood sebaiknya lebih beragam.

Bisa dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, berjalan kaki, mendengarkan musik, melakukan hobi, beristirahat, menulis jurnal atau sekadar mengambil jeda dari aktivitas yang melelahkan.

WHO juga menyarankan menjaga hubungan dengan orang lain, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berolahraga dan menerapkan pola makan sehat sebagai bagian dari cara menghadapi stres.

9. Pilih Makanan yang Mendukung Pola Hidup Sehat

Jika ingin menjaga mood sekaligus kesehatan tubuh, tidak perlu mencari makanan yang mahal atau sulit ditemukan.

Mulailah dari bahan makanan yang mudah diperoleh.

Buah dan sayuran dapat menjadi bagian rutin dalam menu harian. Sumber protein seperti ikan, telur, kacang-kacangan dan sumber protein lainnya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Biji-bijian utuh dan sumber karbohidrat yang lebih tinggi serat juga dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.

Yang terpenting adalah keberagaman.

WHO menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya memenuhi kebutuhan zat gizi, seimbang, moderat dan beragam.

Tidak ada satu jenis makanan yang harus menjadi pusat seluruh pola makan. Justru kombinasi berbagai kelompok makanan membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, protein, serat dan energi.

10. Mood Positif Bukan Berarti Harus Selalu Bahagia

Menjaga mood bukan berarti seseorang harus selalu tersenyum atau memaksakan diri berpikir positif.

Sedih, marah, kecewa, takut dan cemas merupakan bagian dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.

Memaksakan kebahagiaan ketika sedang menghadapi masalah justru dapat membuat seseorang mengabaikan kondisi yang perlu diselesaikan.

Mood yang sehat lebih berkaitan dengan kemampuan mengenali emosi, menerima bahwa perasaan dapat berubah, kemudian mencari cara yang tepat untuk menghadapinya.

Jika perasaan negatif terus berlangsung dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, pola makan, tidur atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang wajar.

Cara Sederhana Menjaga Mood dan Kesehatan Setiap Hari

Menjaga kesehatan emosional tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Beberapa kebiasaan kecil dapat dilakukan secara konsisten.

Pertama, usahakan makan secara teratur dan jangan terlalu sering melewatkan waktu makan.

Kedua, isi menu dengan makanan yang beragam, termasuk sayuran, buah, sumber protein, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Ketiga, cukup minum agar kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.

Keempat, luangkan waktu untuk bergerak setiap hari.

Kelima, prioritaskan tidur yang cukup dan berkualitas.

Keenam, berikan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Ketujuh, tetap terhubung dengan keluarga atau teman yang dapat dipercaya.

Kedelapan, batasi kebiasaan yang digunakan sebagai pelarian ketika sedang stres, termasuk konsumsi makanan secara berlebihan.

Pola sederhana tersebut mungkin terlihat biasa, tetapi justru konsistensi menjadi bagian penting dalam membangun gaya hidup sehat.

Kesimpulan

Pengaruh mood terhadap kesehatan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar membuat seseorang merasa senang atau sedih. Kondisi emosional dapat berkaitan dengan pola makan, tidur, aktivitas fisik, tingkat stres dan berbagai kebiasaan yang akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Di sisi lain, nutrisi juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. Pola makan sehat dan beragam menjadi dasar penting untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sementara penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kualitas pola makan dan kondisi seperti depresi, kecemasan serta stres. Sebuah meta-analisis pada lebih dari 633 ribu orang di negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa pola makan sehat berasosiasi dengan tingkat gejala depresi, kecemasan dan stres yang lebih rendah, meski penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami hubungan sebab-akibatnya.

Karena itu, merawat mood sebaiknya tidak dipisahkan dari kebiasaan menjaga kesehatan. Makan bergizi, tidur cukup, aktif bergerak, menjaga hubungan sosial dan memiliki cara sehat untuk menghadapi stres merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.

Pada akhirnya, kesehatan yang baik bukan hanya tentang tubuh yang terlihat bugar. Pikiran yang terawat, emosi yang dikelola dengan baik dan pola makan yang seimbang juga menjadi bagian penting dari kehidupan yang lebih sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *