Erupsi gunung berapi dapat mengubah kehidupan masyarakat dalam waktu singkat. Aktivitas sehari-hari terganggu, perjalanan menjadi sulit, kualitas udara menurun, dan sebagian keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dalam situasi seperti ini, perhatian biasanya tertuju pada keselamatan fisik dan proses evakuasi.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu pemenuhan nutrisi selama menghadapi imbas erupsi vulkanik.
Ketika kondisi darurat berlangsung, pola makan keluarga dapat berubah. Makanan segar mungkin sulit diperoleh, kegiatan memasak tidak selalu bisa dilakukan, persediaan air harus dihemat, sementara kebutuhan energi tubuh tetap berjalan. Belum lagi aktivitas membersihkan lingkungan setelah hujan abu yang dapat membuat tubuh lebih cepat lelah.
Di sisi lain, abu vulkanik juga dapat mencemari makanan dan sumber air apabila tidak terlindungi. Karena itu, menjaga nutrisi setelah erupsi bukan sekadar memilih makanan bergizi, tetapi juga memastikan makanan dan minuman tetap aman dikonsumsi.
Nutrisi yang baik memang tidak dapat membuat tubuh kebal terhadap abu vulkanik. Perlindungan utama tetap berasal dari mengurangi paparan, mengikuti arahan petugas, menggunakan pelindung yang sesuai, serta segera mendapatkan pertolongan ketika muncul gejala kesehatan yang serius. Namun, pola makan yang cukup dan seimbang dapat membantu tubuh tetap mendapatkan energi serta zat gizi yang dibutuhkan selama menghadapi situasi penuh tekanan.
Berikut sejumlah tips praktis yang dapat diterapkan untuk menangani imbas erupsi dari sisi nutrisi dan kesehatan keluarga.
1. Prioritaskan Keamanan Makanan Sebelum Memikirkan Kandungan Gizinya
Makanan bergizi belum tentu aman apabila telah terkontaminasi material vulkanik.
Abu yang terbawa angin dapat menempel pada makanan terbuka, peralatan makan, permukaan dapur, hingga wadah penyimpanan. WHO juga memasukkan kontaminasi makanan dan air sebagai salah satu risiko kesehatan yang dapat muncul akibat erupsi gunung berapi.
Karena itu, selama hujan abu, makanan sebaiknya selalu berada dalam wadah tertutup.
Nasi, lauk, roti, buah, sayuran, makanan ringan, maupun bahan makanan lainnya jangan dibiarkan terbuka terlalu lama. Jika makanan terkena abu dalam jumlah banyak dan keamanannya diragukan, sebaiknya jangan dipaksakan untuk dikonsumsi.
Prinsip sederhananya adalah aman terlebih dahulu, bergizi kemudian.
2. Pastikan Air Minum Tetap Aman
Air merupakan bagian penting dari kebutuhan nutrisi sehari-hari. Tubuh membutuhkan cairan untuk berbagai fungsi fisiologis, sehingga persediaan air perlu mendapatkan perhatian khusus selama bencana.
Wadah penampungan air yang terbuka dapat terkena abu. Karena itu, tempat menyimpan air minum sebaiknya selalu ditutup.
Jangan menggunakan air yang terlihat tercemar atau sumber air yang kualitasnya tidak diketahui untuk minum dan mengolah makanan sebelum ada kepastian mengenai keamanannya.
Jika tinggal di wilayah terdampak, ikuti informasi dari pemerintah daerah, petugas kesehatan, atau pengelola fasilitas air mengenai sumber air yang dapat digunakan.
Perlu dipahami pula bahwa kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama. Aktivitas fisik, suhu lingkungan, usia, kondisi kesehatan, dan keadaan khusus tertentu dapat memengaruhi kebutuhan cairan.
3. Tetap Usahakan Makan Secara Teratur
Situasi bencana sering membuat jadwal makan menjadi tidak teratur. Ada orang yang terlalu sibuk mengurus keluarga, membersihkan rumah, atau melakukan evakuasi sehingga lupa makan.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan aktivitas.
Jika kondisi memungkinkan, pertahankan pola makan teratur dengan porsi yang sesuai. Tidak perlu memaksakan menu yang rumit. Yang terpenting adalah makanan cukup, aman, dan beragam sesuai bahan yang tersedia.
Contohnya, sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, jagung, atau roti dapat dipadukan dengan sumber protein seperti telur, ikan, ayam, tahu, atau tempe. Tambahkan sayuran dan buah apabila tersedia serta aman dikonsumsi.
Pola seperti ini jauh lebih realistis dibandingkan mencari satu makanan tertentu yang dianggap mampu meningkatkan kesehatan secara instan.
4. Utamakan Sumber Protein yang Mudah Disimpan
Protein memiliki peran penting dalam pemeliharaan dan pembentukan jaringan tubuh serta berbagai proses biologis.
Ketika pilihan makanan terbatas selama bencana, sumber protein yang praktis dapat membantu menjaga kualitas menu.
Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan sesuai fasilitas penyimpanan antara lain:
- Telur.
- Ikan dalam kemasan yang aman.
- Ayam.
- Tahu dan tempe.
- Kacang-kacangan.
- Susu UHT.
- Produk pangan tinggi protein dengan masa simpan sesuai ketentuan.
Tidak harus mengonsumsi semuanya sekaligus. Pilih bahan yang mudah diperoleh, sesuai kebiasaan keluarga, aman disimpan, dan dapat dikonsumsi dalam kondisi darurat.
Yang perlu dihindari adalah menganggap makanan mahal selalu lebih bergizi. Dalam situasi bencana, bahan pangan sederhana pun dapat menjadi bagian dari menu yang baik jika dikombinasikan secara seimbang.
5. Siapkan Persediaan Makanan yang Tidak Mudah Rusak
Keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana sebaiknya memiliki persediaan makanan untuk kondisi darurat.
Pilihan dapat berupa beras, oatmeal, biskuit dengan komposisi yang baik, kacang-kacangan, susu UHT, makanan kaleng atau kemasan yang aman, serta bahan pangan lain yang memiliki masa simpan panjang.
Namun, jangan hanya memperhatikan umur simpan.
Periksa juga kondisi kemasan, tanggal kedaluwarsa, cara penyimpanan, dan kebutuhan pengolahan. Pilih makanan yang dapat dikonsumsi atau diolah dengan fasilitas yang tersedia.
Persediaan darurat juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan anggota keluarga. Anak-anak, lansia, dan anggota keluarga dengan kebutuhan diet tertentu mungkin membutuhkan jenis makanan yang berbeda.
6. Jangan Menganggap Suplemen sebagai Pelindung dari Abu Vulkanik
Ketika terjadi bencana, muncul godaan untuk mencari vitamin atau suplemen yang dianggap dapat “meningkatkan daya tahan tubuh” secara cepat.
Padahal, suplemen bukan pengganti perlindungan dari abu vulkanik.
Mengonsumsi vitamin tidak berarti seseorang dapat bebas berada di tengah hujan abu. Begitu pula tidak ada makanan tertentu yang dapat secara instan membersihkan paru-paru dari abu yang terhirup.
Langkah perlindungan tetap menjadi prioritas.
Jika harus keluar, ikuti rekomendasi perlindungan dari otoritas kesehatan. Kurangi durasi paparan abu dan segera kembali ke tempat yang lebih aman ketika aktivitas selesai.
Nutrisi berperan mendukung kondisi tubuh secara umum, bukan menjadi pengganti tindakan keselamatan.
7. Pilih Makanan yang Padat Gizi Saat Pilihan Terbatas
Dalam kondisi pengungsian atau darurat, pilihan makanan mungkin tidak sebanyak biasanya.
Pada situasi tersebut, prinsip padat gizi dapat membantu.
Pilih makanan yang memberikan protein, vitamin, mineral, serat, dan energi dalam jumlah yang sesuai. Misalnya, makanan pokok dapat dikombinasikan dengan telur atau sumber protein lainnya, kemudian dilengkapi sayuran atau buah apabila tersedia dan aman.
Tidak perlu mengejar makanan yang sedang populer atau produk dengan klaim kesehatan berlebihan.
Nutrisi yang baik justru lebih banyak ditentukan oleh keberagaman dan kecukupan menu secara keseluruhan.
Konsep ini juga sejalan dengan prinsip pola makan sehat yang menekankan kecukupan, keseimbangan, keberagaman, dan moderasi.
8. Perhatikan Kebersihan Tangan dan Peralatan Makan
Abu vulkanik dapat menempel pada berbagai permukaan. Ketika aktivitas memasak dan makan dilakukan dalam kondisi lingkungan berdebu, kebersihan tangan menjadi semakin penting.
Cuci tangan sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan. Pastikan alat makan bersih dan terlindungi dari abu.
Jika air bersih terbatas, gunakan sumber air yang telah dinyatakan aman dan manfaatkan fasilitas kebersihan yang tersedia di tempat pengungsian.
Jangan menyentuh makanan dengan tangan yang kotor setelah membersihkan permukaan berdebu.
Langkah sederhana ini penting karena menjaga kesehatan bukan hanya tentang kandungan nutrisi makanan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut dipersiapkan dan dikonsumsi.
9. Jangan Memaksakan Diri Saat Membersihkan Abu
Setelah kondisi mulai aman, masyarakat biasanya segera membersihkan rumah, kendaraan, halaman, dan berbagai fasilitas dari abu.
Aktivitas tersebut membutuhkan tenaga. Karena itu, jangan sampai proses membersihkan lingkungan membuat kebutuhan makan dan minum diabaikan.
Ambil waktu untuk beristirahat. Minum dari sumber air yang aman dan konsumsi makanan secara teratur.
Membersihkan abu juga harus dilakukan dengan perlindungan yang sesuai. Abu yang kembali beterbangan selama proses pembersihan dapat meningkatkan paparan terhadap saluran pernapasan dan mata.
Jika pekerjaan terlalu berat, terutama membersihkan atap atau bangunan tinggi, jangan mengambil risiko tanpa perlengkapan dan kemampuan yang memadai.
Keselamatan tetap menjadi prioritas.
10. Perhatikan Kebutuhan Anak, Lansia, dan Orang dengan Kondisi Khusus
Kebutuhan nutrisi tidak selalu sama untuk semua anggota keluarga.
Anak-anak membutuhkan makanan yang sesuai dengan usia dan tahap pertumbuhan. Lansia mungkin memiliki kebutuhan diet atau kesulitan mengonsumsi makanan tertentu. Sementara itu, seseorang dengan penyakit kronis mungkin perlu mengikuti pola makan yang telah ditentukan tenaga kesehatan.
Dalam kondisi bencana, kebutuhan tersebut jangan diabaikan.
Jika anggota keluarga rutin mengonsumsi obat, pastikan persediaannya tetap tersedia. Jika memiliki diet khusus berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi, sebisa mungkin pertahankan pola tersebut.
Jangan mengganti makanan atau obat secara sembarangan hanya karena kondisi darurat.
Jika tidak memungkinkan memenuhi kebutuhan tertentu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau petugas di lokasi pengungsian.
Mengapa Nutrisi Penting dalam Masa Pemulihan?
Erupsi tidak selalu selesai ketika aktivitas gunung mulai mereda.
Masa pemulihan dapat berlangsung selama berhari-hari atau lebih lama. Masyarakat mungkin harus membersihkan lingkungan, memperbaiki tempat tinggal, kembali bekerja, atau menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
Semua aktivitas tersebut membutuhkan energi.
Makanan bergizi dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi yang diperlukan tubuh. Namun, manfaat tersebut harus dipahami secara realistis.
Nutrisi bukan obat untuk mengatasi semua dampak bencana. Nutrisi juga tidak menghilangkan bahaya abu vulkanik.
Perannya adalah membantu tubuh tetap mendapatkan bahan bakar dan zat gizi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi normal selama masa sulit.
Waspadai Gejala Kesehatan Setelah Terpapar Abu
Selain memperhatikan makanan, masyarakat harus mengenali gejala yang mungkin muncul setelah terpapar abu.
Keluhan dapat berupa batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, iritasi mata, hidung terganggu, atau kesulitan bernapas. Orang dengan gangguan pernapasan sebelumnya dapat lebih rentan terhadap paparan abu.
Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau gejala yang semakin memburuk, segera cari pertolongan medis.
Jangan mencoba mengatasi gejala berat hanya dengan makanan, vitamin, atau minuman herbal.
Kesehatan setelah bencana membutuhkan pendekatan menyeluruh: perlindungan dari paparan, kebersihan, nutrisi, hidrasi, istirahat, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Kesimpulan
Menangani imbas erupsi vulkanik bukan hanya tentang menghindari abu atau melakukan evakuasi. Dari sisi nutrisi, keluarga juga perlu memastikan makanan dan air tetap aman, kebutuhan energi terpenuhi, pola makan tetap beragam, dan kelompok rentan memperoleh perhatian lebih.
Langkah sederhana seperti menutup makanan, melindungi sumber air, menyediakan makanan tahan lama, mengonsumsi sumber protein, menjaga kebersihan tangan, dan makan secara teratur dapat menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi situasi darurat.
Yang tidak kalah penting, jangan percaya pada klaim bahwa makanan atau suplemen tertentu dapat membuat tubuh kebal terhadap abu vulkanik. Tidak ada makanan ajaib yang menggantikan perlindungan dari paparan.
Kunci menghadapi imbas erupsi adalah menggabungkan keselamatan, kebersihan, hidrasi, nutrisi seimbang, dan kewaspadaan terhadap gejala kesehatan.
Ketika kondisi sudah memungkinkan, pertahankan pola makan yang sederhana tetapi bergizi. Tubuh membutuhkan energi untuk menghadapi masa pemulihan, sementara keluarga membutuhkan kondisi fisik yang cukup baik untuk kembali menjalani aktivitas secara bertahap.
Erupsi mungkin berada di luar kendali manusia, tetapi cara menjaga kesehatan selama dan setelah bencana dapat dipersiapkan sejak sekarang.