Ada hari ketika seseorang bangun pagi dengan perasaan bersemangat. Aktivitas yang biasanya terasa melelahkan pun dapat dijalani dengan lebih ringan. Sebaliknya, ada pula hari ketika suasana hati sedang buruk sehingga pekerjaan sederhana terasa jauh lebih berat. Menariknya, perubahan tersebut tidak hanya terasa secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang makan, tidur, bergerak, berinteraksi, hingga merawat tubuh.
Inilah alasan mengapa pengaruh mood terhadap kesehatan tidak sebaiknya dianggap sebagai persoalan sepele. Mood memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan sehat atau tidaknya seseorang. Namun, suasana hati dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari yang pada akhirnya ikut menentukan kondisi tubuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan tersebut dapat terlihat sederhana. Ketika sedang stres, seseorang mungkin memilih makanan manis sebagai pelarian. Ketika pikiran terlalu penuh, waktu tidur bisa berantakan. Saat kehilangan motivasi, aktivitas fisik juga dapat berkurang. Sebaliknya, ketika kondisi emosional lebih stabil, seseorang cenderung lebih mudah mempertahankan rutinitas sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi pikiran dan tubuh. Stres berlebihan dapat berkaitan dengan kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, masalah tidur, serta perubahan nafsu makan.
Karena itu, menjaga kesehatan seharusnya tidak hanya berbicara mengenai vitamin, makanan bergizi, olahraga, atau pemeriksaan kesehatan. Kondisi emosional juga menjadi bagian dari gaya hidup yang perlu diperhatikan.
Mengapa Mood Bisa Berhubungan dengan Kesehatan?
Mood merupakan kondisi suasana hati yang dapat berubah akibat berbagai hal. Pekerjaan, hubungan sosial, kondisi keuangan, kurang tidur, tekanan akademik, lingkungan, hingga kondisi kesehatan dapat memengaruhi suasana hati seseorang.
Ketika mood berubah, perilaku juga bisa ikut berubah. Seseorang yang sedang bahagia mungkin lebih bersemangat menjalani aktivitas. Sementara itu, orang yang sedang tertekan bisa kehilangan motivasi untuk memasak, berolahraga, bersosialisasi, atau bahkan menjaga pola tidur.
Hubungan tersebut membuat mood menjadi salah satu bagian dari kesejahteraan secara keseluruhan. WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan mental yang membantu seseorang menghadapi tekanan kehidupan, mengenali kemampuan dirinya, belajar, bekerja, serta berkontribusi dalam komunitas.
Jadi, memperhatikan mood bukan berarti terlalu memikirkan perasaan. Justru, mengenali kondisi emosional dapat membantu seseorang memahami kebutuhan tubuh dan pikirannya.
Mood Buruk Bisa Membuat Pola Makan Berubah
Salah satu pengaruh mood terhadap kesehatan yang paling mudah diamati adalah perubahan pola makan.
Ketika sedang sedih, bosan, stres, atau kecewa, sebagian orang cenderung mencari makanan yang dianggap dapat memberikan rasa nyaman. Makanan manis, gorengan, makanan ringan, makanan cepat saji, atau minuman dengan gula tinggi dapat menjadi pilihan karena mudah diperoleh dan memberikan sensasi menyenangkan dalam waktu singkat.
Masalahnya muncul apabila pola tersebut menjadi kebiasaan.
Makan karena lapar berbeda dengan makan karena emosi. Ketika seseorang terus-menerus menggunakan makanan untuk meredakan perasaan tidak nyaman, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi bisa menjadi kurang terkontrol.
Dalam pedoman pencegahan obesitas, Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan melalui platform WHO juga menjelaskan mengenai emotional eating, yaitu perilaku makan berlebihan yang dipicu emosi dan cenderung mengarah pada pilihan makanan tinggi gula, garam, atau lemak.
Karena itu, ketika mood sedang buruk, bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh menikmati makanan favorit. Yang lebih penting adalah mengenali alasan di balik keinginan makan tersebut.
Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah benar lapar, atau sebenarnya sedang lelah, bosan, cemas, atau membutuhkan hiburan?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan kebutuhan fisik dengan dorongan emosional.
Nutrisi yang Baik Tetap Penting untuk Menjaga Tubuh
Mood yang baik tidak bisa menggantikan pola makan sehat. Sebaliknya, pola makan yang baik merupakan salah satu fondasi untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
WHO menyebut pola makan sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan dan membantu mencegah kekurangan gizi serta berbagai penyakit tidak menular. Prinsip utamanya mencakup kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman makanan.
Artinya, menjaga mood sebaiknya tidak dilakukan dengan mengandalkan satu jenis makanan tertentu.
Daripada mencari makanan yang dianggap sebagai “obat mood”, lebih baik membangun pola makan yang beragam. Buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, sumber protein, serta cukup cairan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.
Pendekatan ini juga lebih realistis karena kesehatan tidak ditentukan oleh satu makanan atau satu hari. Konsistensi pola hidup dalam jangka panjang jauh lebih penting.
Mood dan Kualitas Tidur Saling Berkaitan
Pernah mengalami hari ketika pikiran terlalu penuh sehingga sulit tidur? Kondisi tersebut menunjukkan bahwa emosi dan tidur dapat saling berkaitan.
Saat seseorang mengalami tekanan, pikirannya mungkin terus aktif meskipun tubuh sudah berada di tempat tidur. Akibatnya, waktu tidur dapat menjadi lebih pendek atau kualitas istirahat terasa kurang baik.
Masalahnya, kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami perubahan mood pada hari berikutnya.
Terbentuklah sebuah siklus. Mood buruk membuat tidur terganggu, kemudian tidur yang tidak berkualitas membuat tubuh lebih mudah lelah dan emosi lebih sulit dikendalikan.
WHO menyarankan menjaga rutinitas tidur yang konsisten sebagai salah satu cara untuk membantu mengelola stres. Tidur yang cukup memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat serta memulihkan diri.
Karena itu, ketika mood sedang tidak baik, memperbaiki jadwal tidur dapat menjadi salah satu langkah sederhana yang patut dicoba.
Stres Berkepanjangan Jangan Dianggap Normal
Setiap orang pasti pernah mengalami stres. Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, tuntutan pendidikan, persoalan ekonomi, atau perubahan besar dalam kehidupan dapat membuat seseorang merasa kewalahan.
Stres dalam kadar tertentu merupakan respons alami manusia. Namun, ketika tekanan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisinya perlu diperhatikan.
WHO menyebut stres berlebihan dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental. Gejalanya dapat berupa sulit rileks, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, masalah tidur, serta perubahan nafsu makan.
Oleh sebab itu, jangan selalu menganggap rasa lelah, mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan sebagai sesuatu yang harus ditahan sendiri.
Tubuh terkadang sedang memberikan sinyal bahwa beban yang diterima sudah terlalu besar.
Mood Buruk Bisa Mengurangi Keinginan untuk Bergerak
Ketika suasana hati sedang buruk, seseorang mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring.
Menonton video, bermain media sosial, tidur, atau sekadar diam memang bisa menjadi cara seseorang mengambil jeda. Namun, apabila berlangsung terlalu lama, kebiasaan kurang bergerak dapat menjadi pola yang tidak sehat.
Aktivitas fisik sebenarnya tidak harus selalu berupa olahraga berat. Berjalan kaki, membersihkan rumah, melakukan peregangan, berkebun, atau melakukan aktivitas fisik ringan dapat menjadi pilihan.
WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara teratur sebagai salah satu cara untuk membantu mengelola stres.
Karena itu, jangan menunggu mood menjadi sempurna untuk mulai bergerak. Justru, aktivitas sederhana dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki suasana hati.
Hubungan Sosial Juga Bisa Membantu Menjaga Mood
Menjaga kesehatan emosional tidak selalu harus dilakukan sendirian.
Berbicara dengan teman, keluarga, pasangan, atau orang yang dipercaya dapat membantu seseorang mengeluarkan beban yang selama ini dipendam. Terkadang, seseorang tidak membutuhkan solusi instan, tetapi hanya membutuhkan tempat aman untuk bercerita.
WHO juga merekomendasikan tetap terhubung dengan keluarga dan teman serta membagikan kekhawatiran kepada orang yang dipercaya sebagai salah satu cara mengelola stres. Hubungan sosial dapat membantu seseorang merasa lebih terhubung dan tidak menghadapi tekanan sendirian.
Di era digital, hubungan sosial memang semakin mudah dilakukan. Namun, terlalu banyak mengonsumsi media sosial juga perlu diperhatikan. Jika konten tertentu justru membuat seseorang semakin cemas atau tertekan, mengurangi paparan dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.
Cara Sederhana Menjaga Mood dan Kesehatan
Menjaga mood tidak berarti harus selalu merasa bahagia. Sedih, kecewa, marah, dan lelah merupakan bagian dari kehidupan.
Yang penting adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.
Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga keseimbangan:
1. Pertahankan jadwal tidur.
Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif konsisten. Jangan menjadikan begadang sebagai kebiasaan untuk menyelesaikan semua persoalan.
2. Jangan melewatkan waktu makan.
Ketika sedang stres, seseorang mungkin kehilangan selera makan. Tetap usahakan mengonsumsi makanan bergizi secara teratur.
3. Perbanyak variasi makanan bergizi.
Buah, sayuran, sumber protein, biji-bijian, dan kacang-kacangan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. WHO menekankan pentingnya variasi, keseimbangan, dan moderasi dalam pola makan sehat.
4. Bergerak setiap hari.
Tidak perlu langsung melakukan olahraga berat. Jalan santai atau peregangan dapat menjadi langkah awal.
5. Kurangi kebiasaan mencari pelarian dari makanan.
Jika ingin makan ketika sedang sedih atau stres, coba kenali terlebih dahulu apakah tubuh benar-benar lapar.
6. Batasi informasi yang membuat semakin stres.
Terlalu banyak mengikuti berita atau konten media sosial yang memicu kecemasan dapat membuat pikiran semakin terbebani. WHO juga menyarankan membatasi paparan berita apabila hal tersebut meningkatkan stres.
7. Luangkan waktu untuk aktivitas yang disukai.
Membaca, mendengarkan musik, memasak, berkebun, menonton film, atau menjalankan hobi dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan ruang bagi diri sendiri.
8. Jangan takut meminta bantuan.
Jika tekanan emosional sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang tepat.
Kapan Mood Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?
Perubahan mood sesekali adalah hal yang wajar. Namun, kondisi menjadi berbeda ketika suasana hati yang buruk berlangsung lama dan mulai memengaruhi kehidupan.
WHO menjelaskan bahwa depresi berbeda dari perubahan mood sehari-hari. Depresi ditandai suasana hati yang rendah atau hilangnya minat dan kesenangan dalam aktivitas dalam jangka waktu tertentu, disertai gejala lain seperti gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak berharga.
Karena itu, jangan mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan perubahan mood. Jika kondisi emosional terasa berat, menetap, atau mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang sesuai.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri.
Jangan Pisahkan Kesehatan Mental dan Fisik
Kesehatan mental dan kesehatan fisik sering dibahas sebagai dua hal berbeda. Padahal, kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa keduanya saling berhubungan.
Ketika seseorang mengalami stres, pola tidur dapat berubah. Ketika tidur terganggu, energi untuk beraktivitas bisa menurun. Ketika aktivitas berkurang, pola hidup dapat menjadi semakin tidak teratur. Pada saat yang sama, pola makan juga bisa berubah.
Karena itulah, menjaga kesehatan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh.
Bukan hanya bertanya, “Apa yang saya makan hari ini?”, tetapi juga “Bagaimana kualitas tidur saya?”, “Seberapa sering saya bergerak?”, “Apakah saya sedang mengalami tekanan?”, dan “Apakah saya punya waktu untuk beristirahat?”
Pendekatan seperti ini membuat upaya menjaga kesehatan menjadi lebih realistis.
Kesimpulan
Pengaruh mood terhadap kesehatan tidak boleh diremehkan karena suasana hati dapat berkaitan dengan banyak kebiasaan yang menentukan kualitas hidup. Mood yang buruk dapat membuat seseorang lebih mudah stres, mengalami gangguan tidur, mengubah pola makan, mengurangi aktivitas fisik, dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Sebaliknya, kondisi emosional yang lebih stabil dapat membantu seseorang mempertahankan rutinitas yang mendukung kesehatan.
Namun, menjaga mood bukan berarti memaksa diri untuk selalu bahagia. Setiap orang pasti memiliki hari buruk. Yang penting adalah mengenali emosi, memahami kebutuhan tubuh, menjaga pola makan, tidur cukup, tetap bergerak, membangun hubungan sosial yang sehat, dan mencari bantuan ketika tekanan terasa terlalu berat.
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang apa yang terlihat dari luar. Apa yang terjadi di dalam pikiran juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh menjalani aktivitas setiap hari. Karena itu, merawat mood merupakan salah satu bagian dari merawat diri secara keseluruhan.